Arsip Tag: Peternakan

PAKAN HIJAUAN PADA SAPI PERAH

PAKAN HIJAUAN PADA SAPI PERAH – Pemberian pakan pada ternak ditujukan untuk memenuhi kebutuhan biologis ternak, baik untuk kebutuhan pokok maupun untuk produksi. Kebutuhan hidup pokok merupakan kebutuhan untuk mempertahankan bobot badan, sedangkan kebutuhan produksi untuk memproduksi air susu, pertumbuhan, dan reproduksi. Jika pakan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, maka bobot badan sapi tidak akan naik dan tidak akan turun, dan produksi susu tidak ada. Sebaliknya, jika pakan dapat melebihi kebutuhan hidup pokok, maka kelebihan pakan akan diubah menjadi bentuk – bentuk produksi seperti produksi susu, pertumbuhan atau peningkatan bobot hidup dan tenaga. Bahan pakan berserat berupa hijauan merupakan pakan utama sapi perah. seperti rumput dan legum. Hijauan merupakan pakan utama sapi perah yang mengandung kadar serat tinggi.

Jenis-jenis Hijauan yang diberikan pada ternak sapi perah

Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi enjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan(Rumput gajah ( Pennisetum purpureum), Rumput Raja (King grass), setaria, benggala (Pennisetum maximum), rumput lapang dan BD (Brachiaria decumbens)), kacang-kacangan (leguminosa) seperti lamtoro, turi, gamal dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro. Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada musim kemarau. Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat kasar. Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll.

PAKAN HIJAUAN PADA SAPI PERAH

Hijauan berdasarkan kualitasnya dibagi atas 3 kelompok:

1. Kelompok hijauan yang berkualitas rendah:

  •  Protein kasar di bawah 4% dari bahan kering
  • Energi di bawah 40% TDN dari bahan kering
  • Sedikit atau tidak ada vitamin.

Hijauan yang termasuk kelompok ini antara lain adalah jerami padi, jerami jagung dan pucuk tebu.

2. Kelompok hijauan yang berkualitas sedang:

  •  Protein kasar berkisar antara 5-10% dari bahan kering
  • Energi berkisar antara 41 – 50% TDN dari bahan kering
  • Kalsium sekitar 0,3%

Hijauan yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah rumput alam, rumput lapangan,rumput gajah, rumput benggala dan rumput kultur lainnya.

3. Kelompok hijauan yang berkualitas tinggi:

  • Protein kasar di atas 10% dari bahan kering
  • Energi di atas 50% TDN dari bahan kering
  • Kalsium di atas 1,0% .
  • Kandungan vitamin A tinggi

Hijauan yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah leguminosa (lamtoro,kaliandra, gliricidia, alfalfa), dan daun umbi-umbian.

Inokulasi Virus Telur Ayam Berembrio

Inokulasi Virus Telur Ayam Berembrio – Peternakan unggas khususnya ayam kampung mempunyai peranan yang sangat penting dalam usaha meningkatkan produksi yang dapat menambah penghasilan dengan cara pemeliharaan ayam yang masih bersifat tradisional. Wabah Newcastle Disease (ND) merupakan hambatan dalam pemeliharaan ayam kampung. Wabah biasanya terjadi pada waktu peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. ND telah lama menjadi masalah di indonesia karena penyakit yang menyerang unggas ini merupakan penyakit yang akut dan menyerang unggas segala umur dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. ND merupakan penyakit strategik yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi terbesar, serta menjadi hambatan bagi kegiatan perdagangan internasional.

Ayam kampung merupakan ayam lokal yang ada di Indonesia, mempunyai ciri yang mudah dikenali, sehingga mudah dibedakan dari ayam ras. Penyakit yang menyerang ayam dapat disebabkan oleh parasit, virus, bakteri, jamur, defisiensi zat makanan, atau karena gangguan lainnya. Kasus penyakit yang paling sering ditemukan adalah penyakit tetelo atau Newcastle Disease (ND). Penyakit ini disebabkan oleh virus Newcastle Disease (NDV).

Telur ayam berembrio merupakan sistem yang telah lama digunakan secara luas untuk isolasi. Embrio dan membran pendukungnya menyediakan keragaman tipe sel yang dibutuhkan untuk kultur berbagai tipe virus yang berbeda. Telur merupakan sumber sel murah untuk isolasi virus, sehingga cara in ovo ini sering digunakan dalam laboratorium. Telur ayam memiliki empat membran ekstra embrional yaitu kantung vitelus, amnion, serosa dan alantois. Alantois mulai terdapat pada janin ayam yang berumur 27 jam inkubasi, terjadi sebagai suatu divertikulum pada dasar usus belakang di daerah kloaka yang mula-mula menyerupai kantung dan tumbuh cepat sekali. Rongga alantois berisi cairan-cairan yang berasal dari kotoran-kotoran janin, ketika selama pertumbuhan dilepaskan. Dinding alantois dibentuk oleh splanknopleura, pendarahannya diatur oleh arteri dan vena alantois yang disebut vena dan arteri umbilikalis.

Beberapa kemungkinan yang terjadi bila virus ditanam atau disuntikan pada telur berembrio:

a. Embrio ayam akan mati

b. Pocks atau plaque akan tumbuh

c. Pembentukan antingen

Membran kulit telur yang fibrinous terdapat di bawah kerabang. Membran membatasi seluruh permukaan dalam telur dan membentuk rongga udara pada sisi tumpul telur. Membran kulit telur bersama dengan cangkang telur memban untuk mempertahankan intregitas mikrobiologi dari telur, sementara terjadinya difusi gas ke dalam dan ke luar telur. Distribusi gas di dalam telur dibantu dengan pembentukan CAM yang sangat vaskuler yang berfungsi sebagai organ respirasi embrio. Telur ayam berembrio merupakan salah satu media penumbuh berbagai jenis virus seperti virus Newcastle Disease (ND), Avian Influenza, dan Campak.

Newcastle Disease (ND) merupakan salah satu penyakit infeksi yang penting untuk dikaji dalam peternakan. Newcastle disease juga dikenal dengan nama sampar ayam atau tetelo. Deteksi yang cepat dan identifikasi dari virus ini merupakan tahap yang paling efektif untuk mengontrol pertumbuhan penyakit ini. Newcastle Disease disebabkan oleh Paramyxovirus yang merupakan anggota dari familia Paramyxoviridae. Newcastle Disease virus biasanya berbentuk bola dengan diameter 100-300 nm. Genom dari virus ND adalah suatu rantai tunggal RNA. virus ND mempunyai amplop yang mengandung dua protein yaitu protein hemaglutinin neuraminidase (HN) dan protein peleburan. Kedua protein ini bersifat penting dalam menentukan keganasan dan infektivitas virus. Protein HN melaksanakan dua fungsi, yaitu hemaglutinin mengikat selaput sel inang dan bagian neuraminidase dilibatkan di dalam pelepasan virus dari selaput sel inang. Protein peleburan digunakan untuk peleburan amplop virus kepada selaput sel inang, sehingga genom dari virus dapat masuk sel. Fungsi ini dapat dilaksanakan dengan pembelahan protein peleburan oleh suatu protease sel inang.

Virus ND menyerang alat pernapasan, susunan jaringan syaraf, serta alat-alat reproduksi telur dan menyebar dengan cepat serta menular pada banyak spesies unggas yang bersifat akut, epidemik (mewabah) dan sangat patogen. Virus ND dibagi dua tipe yakni tipe Amerika dan tipe Asia. Pembagian ini berdasarkan keganasannya dimana tipe Asia lebih ganas dan biasanya terjadi pada musim hujan atau musim peralihan, dimana saat tersebut stamina ayam menurun sehingga penyakit mudah masuk.

Newcastle disease berpotensi menginfeksi kebanyakan pada spesies burung dan dan kerentanan pada unggas sangat tinggi penularannya, biasanya menyebabkan kematian. Penyakit ini adalah salah satu penyakit infeksi yang paling mudah penularannya di seluruh dunia, karena distribusinya dan potensi untuk merusak. Hal ini terjadi paling sedikit 6 dari 7 benua di dunia dan enzootic pada beberapa negara.  Newcastle Disease virus (NDV) juga dikenal sebagai avian paramyxovirus serotype-1 (APMV-1), masuk dalam genus Avulavirus dengan family Paramyxoviridae yang merupakan untai tunggal negatif, tidak bersegmen, merupakan virus RNA yang mempunyai envelop. Genom NDV tersusun atas 6 gen dan menyandikan gen-gen tersebut bersamaan dengan 6 struktur protein yaitu nukleoprotein (NP), pospoprotein (P), matrix (M), fusi (F), hemaglutinin-neuraminidase (HN) dan RNA polimerase (L). RNA dari hasil protein ditambah protein non struktural V dan mungkin W, ketika virulensi dari NDV tergantung pada banyak gen, fusi tempat pembelahan protein adalah tempat secara kritis bertanggung jawab untuk perubahan utama dalam virulensi. Virus sedikit virulen (loNDV) mempunyai asam amino utama lebih sedikit pada tempat ini dan leusin daripada penilalanin pada posisi 117. Menggunakan teknik genetik terbalik telah menunjukkan bahwa penilalanin pada posisi 117 dan asam amino utama mengelilingi Q 114 adalah kebutuhan untuk virulensi.

Embrio yang terinokulasi virus akan mengalami lesi pada CAM seperti edema atau perkembangan plak karena adanya hemaglutinasi, pada buku-buku kaki akan menjadi berwarna kehijauan, perkembangan otot yang abnormal, organ visceral yang abnormal, tubuh sangat lunak dan mengalami kematian. Gejala klinis anak ayam dan ayam fase bertelur penderita ND dijelaskan sebagai berikut:

1. Anak ayam, ditemukan penderita mati tiba-tiba tanpa gejala penyakit. Pernapasan sesak, batuk, lemah, nafsu makan menurun, mencret dan berkerumun. Terlihat gejala syaraf  berupa paralisis total atau parsial. Penderita mengalami tremor atau kejang otot, bergerak melingkar dan jatuh. Sayap terkulai dan leher terputar (torticolis). Mortalitas pada penderita bervariasi.

2. Ayam fase produksi, umur 2 sampai dengan 3 minggu terlihat gejala gangguan pernapasan, depresi dan nafsu makan menurun, namun gejala syaraf jarang terlihat. Produksi telur menurun secara mendadak. Morbiditas dapat mencapai 100%, sedangkan mortalitas bisa mencapai 15%.

Perubahan pasca mati pada unggas penderita antara lain, meliputi ptechiae, berupa bintik-bintik perdarahan pada proventrikulus dan seca tonsil, eksudat dan peradangan pada saluran pernapasan serta nekrosis pada usus.

Trakhea penderita ND terlihat lebih merah daripada trakhea normal, karena adanya peradangan. Gejala lain yang nampak pada ayam yang terkena virus Newcastle Disease (NDV) adalah sebagai berikut:

  1. Excessive mucous di trakhea.
  2. Gangguan pernapasan dimulai dengan megap-megap, batuk, bersin dan ngorok waktu bernapas.
  3. Ayam tampak lesu.
  4. Nafsu makan menurun.
  5. Produksi telur menurun.
  6. Mencret, kotoran encer agak kehijauan bahkan dapat berdarah.
  7. Jengger dan kepala kebiruan, kornea menjadi keruh, sayap turun, otot tubuh gemetar, kelumpuhan hingga gangguan saraf yang dapat menyebabkan kejang-kejang dan leher terpuntir.

Pengujian yang dilakukan terhadap adanya penularan virus dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, yaitu:

a. Pembiakan virus dengan hewan percobaan (In vivo)

Pembiakan virus dengan hewan percobaan digunakan untuk isolasi primer virus tertentu, untuk penelitian patogenesis virus dan onkogenesis virus. Jenis hewan percobaan, umur, jenis kelamin, serta cara penyuntikannya berbeda-beda tergantung jenis virus. Virus yang sering diteliti secara in vivo pada binatang percobaan antara lain virus polio, virus rabies dan virus dengue.

b. Pembiakan virus pada kultur jaringan (In vitro)

Biakan sel yang dapat digunakan untuk membiakan virus secara in vitro adalah biakan primer dan biakan sel yang dapat hidup terus menerus. Biakan sel primer adalah biakan yang diambil dalam keadaan segar dari binatang. Biakan yang berasal dari embrio ayam akan menghasilkan sel jenis fibroblast.

c. Pembiakan virus dalam telur berembrio (In ovo)

Telur juga merupakan perbenihan virus yang sudah steril dan embrio telur yang tumbuh didalamnya tidak membentuk zat anti yang dapat mengganggu pertumbuhan virus.

Cara pembiakan virus pada telur berembrio adalah sebagai berikut:

1. Menyuntikan virus pada lapisan luar selaput korioalantois telur berembrio 10 hari.

Cara penanaman ini berguna untuk isolasi virus yang menyebabkan kelainan dermatotropik seperti virus variola, virus vaccinia dan virus herpes.

2. Menyuntikan virus ke dalam ruang amnion telur berembrio yang  berumur 10-15 hari. Cara ini terutama untuk isolasi virus influenza dan virus parotitis karena virus ini tumbuh di dalam sel epitel paru-paru embrio yang sedang berkembang.

3. Menyuntikan virus pada kantung kuning telur berembrio 9-12 hari. Teknik penanaman ini menggunakan penyuntikan langsung melalui lubang kecil pada kulit telur ke dalam kantung kuning telur.

Faktor yang menyebabkan suksesnya penyebaran NDV adalah karena kemampuan virus untuk bertahan pada inang yang mati atau pada hasil ekskresi. Infeksi dalam karkas virus ND dapat bertahan selama beberapa minggu pada temperatur pendingin dan beberapa tahun dalam karkas beku. Feses unggas yang mengandung virus dalam jumlah yang tinggi merupakan medium yang sesuai untuk virus ND bertahan hidup pada 37o C infektif bertahan selama lebih dari sebulan.

Keberhasilan inokulasi virus pada telur ayam berembrio dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti umur dan status imun, embrio yang berumur sekitar 7-9 hari mempunyai bagian organ yang sempurna dan mempunyai sistem imun yang baik, sehingga pada saat terinfeksi virus akan mudah diamati gejalanya. Dosis virus yang diinokulasikan, semakin banyak volume virus yang diinokulasikan, maka semakin banyak sel yang terinfeksi, sehingga akan semakin cepat kematiannya. Jarak dan waktu inkubasi, inokulasi virus pada embrio membutuhkan jarak dan waktu inkubasi yang sesuai untuk menumbuhkan virus pada embrio. Faktor eksternal seperti temperatur, virus yang menular dapat bertahan hidup hingga berbulan-bulan dalam temperatur kamar pada telur ayam yang terinfeksi virus. Aplikasi rute pemberian terhadap bagian dari telur (embrio, alantois, kantung kuning telur, kantung hawa, amnion), virus mempunyai bagian sel tertentu untuk menginfeksi, misalnya NDV hanya akan menginfeksi bagian yang nantinya akan menjadi pembuluh darah seperti  chorioalantois. Kemampuan penyerapan bahan oleh embrio, dan struktur farmakologi dari bahan itu sendiri juga dapat mempengaruhi keberhasilan inokulasi.

Faktor-faktor yang menentukan keberhasilan inokulasi pada embrio ayam adalah sebagai berikut:

1. Rute Inokulasi

Inokulasi pada embrio dimana virus akan segera mendapatkan tempat untuk menginfeksi organ. Hasil paling baik adalah ketika embrio mengalami abnormal organ sejak 24 jam setelah inokulasi.

2. Strain virus

Strain virus menentukan efek infeksi pada masing-masing embrio yang diinokulasikan virus. Strain yang paling virulen merupakan strain yang paling baik untuk digunakan pada uji in ovo karena mudah terlihat gejalanya.

3. Titer Virus

Banyaknya titer virus yang diinokulasikan merupakan hal yang penting untuk mencapai keberhasilan inokulasi dan akan menyebabkan efek infeksi yang terlihat jelas pada embrio yang diujikan dengan kontrolnya.

4. Tahapan perkembangan embrio

Perkembangan embrio yang sudah mengalami tahap dewasa akan lebih resisten terhadap virus karena sudah dibekali sistem imun pada tubuhnya, sebaliknya embrio dengan umur yang lebih muda akan lebih rentan terkena virus karena sistem imunnya belum berkembang.

Upaya pencegahan agar ayam tidak mudah terinfeksi NDV menurut Isharmanto (2010) dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:

  1. Ayam yang tertular harus dikarantina atau bila sudah pada stadium berbahaya maka harus dimusnahkan.
  2. Vaksinasi harus dilakukan untuk memperoleh kekebalan, yaitu dengan cara:

a. Vaksinasi pertama, dilakukan dengan cara pemberian melalui tetes mata pada hari ke dua.

b. Untuk berikutnya pemberian vaksin dilakukan dengan cara suntikan di intramuskuler otot dada.

Vaksinasi adalah suatu tindakan dimana hewan dengan sengaja dimasuki agen penyakit (antigen) yang telah dilemahkan dengan tujuan untuk merangsang pembentukan daya tahan tubh terhadap suatu penyakit tertentu dan aman serta tidak menimbulkan penyakit (Akso, 1998). Tizard (1998) menyatakan kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu vaksinasi sebagai pengendali adalah sebagai berikut :

1. Identifikasi mutlak organisme penyebab

2. Tanggap kebal melindungi hewan terhadap penyakit

3. Resiko vaksinasi tidak melebihi resiko kemungkinan mengidap penyakit tersebut.

Selain upaya pencegahan di atas, bisa juga dilakukan dengan antiviral terhadap NDV dengan menggunakan buah srikaya (Annona squamosa L.). Sebagaimana menurut Sulistyani et al. (2009), Newcastle Disease Virus (NDV) adalah salah satu virus yang dapat menggumpalkan eritrosit (hemaglutinasi) karena hemaglutinin virus berinteraksi dengan permukaan eritrosit. Hemaglutinin terdapat pada amplop virus. Pemanfaatan bahan alam merupakan salah satu alternatif untuk mencari antiviral baru. Telah dilaporkan bahwa ekstrak gubal biji Annona squamosa L. (srikaya) mengandung RIP (Ribosome-Inactivating Protein) karena dapat memotong DNA superkoil. RIP terbukti mempunyai efek sebagai antiviral, baik pada virus tanaman maupun hewan. Infusa biji srikaya mempunyai kemampuan sebagai antiviral terhadap NDV dengan IC50 3.2369 g/mL. Langkah selanjutnya dapat dilakukan melalui keadaan sanitasi lingkungan baik dan tidak berdekatan dengan ayam yang sakit, keadaan nutrisi unggas harus dicukupi. Keberhasilan vaksinasi dapat diketahui dengan mengukur titer antibodi pada ayam 2 – 3 minggu setelah divaksin.

Adi, A., Astawa., Ketut., dan Yasunobu M. 2008. Deteksi Virus Penyakit Tetelo Isolat Lapangan dengan Metode Nested Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction. Jurnal Veteriner, Vol. 9 (3) : 128-134.

Akso, B.T. 1998. Kesehatan Unggas. Kanisius, Yogyakarta.

Alexander, D.J. 1990. Paramyxoviridae (Newcastle Disease and others). In : Poultry Disease. FTW Jordan (editor) 3rd ed. Bailliere Tindall, London.

Allan, W.H., Lancaster, J.E., Thoth, B. 1978. Newcastle Disease Vaccines. Their production and use. FAO Animal Production and Health Series No. 10. FAO, Rome.

Berad, C.W. 1984. Serologic Procedures In : A Laboratory Manual for the Identification of Avian Pathogenes. Kenneth Sguare, Pennyslavia, pp. 192-200.

Darminto. 1992. Efisiensi Penyakit Tetelo pada Ayam Boiller. Jurnal Penyakit hewan, Vol. 24 (2) : 4-8.

Johnston, D.A., H. Liu, T. O’connell, P. Phelps, M. Bland, J. Tyczkowski, A. Kemper, T. Harding, A. Avakian, E. Haddad, C. Whitfill, R. Gildersleeve And C.A. Rick. 1997. Applications in in ovo technology. J. Poult Sci, Vol. 76, pp. 165-178.

Juhanda, T. 1981. Embriologi Perbandingan. CV. Armico, Bandung.

Kaleta, E. F. Dan U. Neumann. 1975. Detection of Newcastle Disease Virus in Chicken Tracheal Organ Cultures by the Fluorescent Antibody Technique and by the Embryonated egg method. Journal Avian Pathology,  Vol. 4 (1) : 227-232.

Merchant and Packer. 1956. Veterinary Bacteriology and Virology. Iowa State University Press, USA.

Miller, P.J., Decanini, E.L., Afonso, C.L. 2010. Newcastle disease: Evolution of genotypes and the related diagnostic challenges. Journal Infection, Genetics and Evolution, Vol. 10, pp. 26-35.

Radji, M. 2010. Imunologi dan Virologi. PT. Isfi Penerbitan, Jakarta.

Smietanka, K., Z. Minta dan K. D. Blicharz. 2006. Detection of Newcastle Disease Virus in Infected Chicken Embryos and Chicken Tissues by RT-PCR. Bull Vet Inst Pulawy, Vol. 50, pp. 3-7.

Sudardjat, S. 1996. Peranana Vaksinasi ND Terhadap Peningkatan Produksi Ayam Buras serta Dampaknya ditinjau dari Sudut Ekonomi Veteriner. Tesis. Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Bogor.

Sulistyani, N., Ibnatul Azizah dan M. Kuswandi. 2009. Aktivitas Antiviral Ekstrak Etanolik Biji Srikaya (Annona squamosa L.) terhadap Virus Newcastle Disease pada Telur Ayam Berembrio. Majalah Farmasi Indonesia, Vol. 20 (2) : 62-67.

Williamson, A. P., R. J. Blattner, dan G. G. Robertson. 1953. Factors Influencing the Production of Developmental Defects in the Chick Embryo Following Infection with Newcastle Disease Virus. The Journal of Immunology, Vol. 71, pp. 207-213.

Yuan, Ping., K. A. Swanson,. G. P. Leser., R. G. Paterson., R. A. Lamb, and T. S. Jardetzky. 2011. Structure of the Newcastle Disease Virus Hemagglutinin-neuraminidase (HN) Ectodomain Reveals a Four-helix Bundle Stalk. PNAS. No. 36 Vol. 108. Doi 10.1073/pnas. 1111691108.

Tizard, I. 1998. Pengantar Immunologi Veteriner. Airlangga University Press, Surabaya.

Zuckerman, A. J., J. E. Banatvala, dan J. R. Pattison. 2000. Principles and Practice of Clinical Virology. John Wiley & Sons, New York.

Bibit Bebek Pedaging Berkualitas

Bibit Bebek Pedaging Berkualitas – Sampai saat ini jenis bebek yang digunakan sebagai bebek pedaging merupakan jenis bebek jantan dan betina yang tidak lolos seleksi sebagai bebek petelur.

Nah, paradigma dan cara pandang tersebut sudah semestinya diganti, bahwa peternakan bebek pedaging sama menguntungkanya dengan peternakan bebek petelur.

Seluruh bibit bebek lokal Indonesia dapat dijadikan sebagai bebek pedaging. Dan bahkan, bebek lokal memiliki kelebihan dalam kualitas daging. Daging lebih empuk, tidak terlalu berserat dan tidak berbau anyir sehingga rasanya lebih gurih.

Berikut ciri-ciri bibit bebek pedaging berkualitas : 

  1. Tidak dihasilkan dari indukan yang memiliki riwayat terkena penyakit colibacillosis, chronic, respiratory desease (CRD), dan salmonellosis. Karena induk yang memiliki riwayat terkena tiga penyakit ini berpotensi menghasilkan anak bebek yang lemah dan mudah terkena penyakit.
  2. Tidak memiliki cacad pada anggota tubuh, seperti mata buta, paruh tidak menutup simetris, sayap patah, sayap jatuh terkulai, sayap memiliki panjang yang tidak sama, kaki pincang, kaki bengkok, selaput renang sobek, ruas jari bengkok, atau bentuk cacat lain. ini akan mempengaruhi kualitas bebek pedaging.
  3. Badan terlihat tegak dengan kaki lurus simetris.
  4. Jika membeli bebek melalui pesanan dan dikirim langsung kekandang, seleksi bebek yang cacad dan pisahkan dalam pemeliharaan sendiri. Karena bebek yang cacat tidak mampu berkompetisi dengan bebek yang lain.
  5. Bebek yang sehat akan memiliki mata yang bulat cerah, agak cembung, tidak mengeluarkan air, tidak mengeluarkan kotoran mata, tidak sayau dan terlihat segar.
  6. Tidak terlihat sering bersin atau mengeluarkan cairan yang berlebihan pada lubang hidung.
  7. Bulu kering, menutup merata, dan lurus, bulu yang tampak keriting menandakan itik baru saja menetas atau bermasalah pada saat proses penetasan.
  8. Bagian rongga perut akan terasa kenyal jika ditekan perlahan.
  9. Bagian pusar dan dubur kering, tidak lengket dan tidak ada kotoran atau cairan berlebihan.
  10. Pilih bebek jantan yang memiliki ukuran tubuh seragam. Ukuran yang seragam cenderung memiliki laju pertumbuhan yang hampir sama, sehingga pada saat panen bisa dilakukan dengan serntak.
  11. Jika terjatuh atau tertabrak bebek lainya, bebek akan cepat berdiri, selain itu bibit bebek pedaging berkualitas akan memberi respon terhadap itik lainya sehingga tampak bersosialisasi atau bermain.
  12. Bebek terlihat aktif makan dan minum dan memiliki nafsu makan yang baik.
  13. Bebek Akan Meronta jika ditangkap. Selain itu, bebek akan memberi perhatian kepada orang, baik yang memberi pakan dan minum maupun orang asing serta suara-suara tertentu. hal ini menunjukan bebek dalam keadaan baik dan mampu memberikan respon terhadap lingkungan sekitar.

Cara Membawa Bibit Bebek Yang Benar

Nah, setelah mengetahui ciri-ciri bibit bebek pedaging berkualitas, selanjutnya adalah bagaimana teknik membawa bibit ke lokasi kandang tempat Anda akan beternak bebek.

Baca Juga : Memulai Usaha Ternak Bebek Pedaging Di Pinggir Sawah

Jika jumlah bibit yang dibeli relatif banyak, biasanya pengiriman dilakukan oleh penjual. Perlu teknik khusus untuk membawa anak bebek agar tidak stres.

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

  1. Waktu pengiriman bibit bebek pedaging yang baik adalah saat pagi hari, maksimum sebelum pukul 09.00 atau sore hari minimum pukul 16.00. pada waktu tersebut, udara tidak terlalu panas, sehingga memberi kenyamanan pada bibit bebek pedaging.
  2. Jika menggunakan alat tranportasi yang tidak memiliki peneduh, jangan mengirim bibit bebek pedaging ketika hujan atau panas terik. Hujan akan menyebabkan itik kedinginan sehingga berpotensi terkena cold sters (stres akibat udara dingin) dan akhirnya mengalami kematian. Sebaliknya, jika membawa bebek saat panas terik, akan menyebabkan heat stress (stres akibat udara panas) sehingga bebek akan mengalami dehidrasi.
  3. Jumlah wadah dengan jumlah bebek memiliki perbandingan yang seimbang. Jika menggunakankardus boks bekas, jumlah bebek yang diajurkan maksimum 100 ekor. Namun, jika menggunakan kardus bekas kemasan makanan seperti mi instan atau kemasan sejenis lainya, bisa menampung 10-15 ekor bibit bebek pedaging. Jika menggunakan kardus bekas, lubangi kardus tersebut secukupnya untuk memberi sirkulasi udara.
  4. Jangan menggunakan kardus yang kotor, terkontaminasi bahan kimia, memiliki bau yang menyengat, ada bekas tumpahan minyak atau cat. Kardus-kardus tersebut akan membuat bibit bebek pedaging tidak nyaman, bahkan membahayakan kesehatan dan keselamatan pada saat proses pengiriman.

Baca juga : Jenis Bebek Pedaging Unggulan

Panduan Budidaya Lebah Madu Indonesia

Teknik Pemeliharaan Lebah Madu Indonesia – Peternakan lebah madu merupakan suatu usaha yang mulai banyak bermunculan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena kondisi alam Indonesia yang memiliki iklim tropis dan kaya akan sumber pakan bagi ternak lebah madu sehingga dapat mendukung untuk perkembangan peternakan lebah madu. Beberapa hasil yang diperoleh dari peternakan lebah madu adalah madu, bee pollen, royal jelly, lilin lebah (malam), propolis, dan apitoxin.

Usaha budidaya lebah madu lokal di Indonesia masih dipandang sebagai sampingan dari pekerjaan sehari-hari kebanyakan orang. Paradigma mengenai lebah merupakan hewan penyengat dan pengganggu harus secepatnya diubah menjadi konsepsi pemikiran baru. Lebah adalah hewan yang berpengaruh besar terhadap kelangsungan hidup manusia. Tumbuhan bergantung pada lebah dalam proses penyerbukan dan pembuahan, begitu pula dengan manusia yang memerlukan kehadiran lebah sebagai sumber makanan dan menyembuhkan berbagai penyakit.

Budidaya lebah madu telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di pedesaan dan sekitar hutan. Mereka mengenal dengan baik tradisi budidaya lebah madu, khususnya jenis lokal Apis cerana, meskipun dalam bentuk dan teknik sederhana. Pada tahun 1970-an, diprakarsai oleh Pusat Apiari Pramuka, mulai dikembangkan budidaya lebah madu secara modern menggunakan jenis lebah Eropa Apis mellifera yang didatangkan dari Australia. Dimulai dari 20 stup (kotak lebah) Apis mellifera dalam beberapa tahun telah berkembang hingga puluhan ribu koloni dan melibatkan ratusan peternak. Sekurang-kurangnya terdapat 33.000 koloni Apis mellifera pada tahun 2006 (Ditjen RLPS, 2006).

Kegiatan budidaya sangat penting yaitu menentukan lokasi dan pembuatan sarang. Sarang lebah madu mempunyai dua jenis yaitu yang bersifat tradisional yaitu glodog dan yang bersifat modern yaitu stup. Glodog terbuat dari batang kayu kelapa dan bentuk stup atau kotak lebah madu. Keistimewaan lebah diantara beragam manfaat dari biodiversitas yang ada di dunia adalah kemampuannya untuk menghasilkan berbagai produk yang berkhasiat bagi kesehatan manusia.

Lebah madu akan berkembangbiak dan mempunyai koloni yang besar atau individu yang banyak jika kondisi lingkungan tempat tinggal sangat mendukung. Terutama tercukupinya kebutuhan makanan, nektar, pollen, dan cadangan makanan lainnya. Faktor pendukung bagi habitat lebah madu adalah ada tidaknya gangguan lingkungan, utamanya hama pengganggu dan predator. Hama pengganggu yang biasa muncul adalah cicak, semut dan kupu-kupu.

Jenis predator yang sering kita jumpai adalah Epiophlebia (capung besar) dan Eshna (capung warna). Predator ini biasanya menyerang di udara pada saat lebah madu kembali ke sarangnya setelah berkelana membawa pulang madu dan pollen. Budidaya lebah madu akan berhasil jika lingkungan setempat sangat mendukung, yaitu tersedia banyak tanaman berbunga atau penghasil nektar dan pollen serta cukup cadangan makanan lainnya.

Ciri-ciri lebah madu

  1. Hidup menyendiri dan ada yang hidup berkelompok membentuk koloni.
  2. Memiliki susunan masyarakat lebah
  • Lebah pekerja yang bertugas membuat sarang, mengumpulkan madu dan mengurus telur dan larva, membersihkan sarang, menyuapi anakan dan menyuapi ratu, menjaga sarang dari gangguan musuh. Lebah pekerja hanya berumur 8 minggu.
  • Lebah pejantan bertugasnya membuahi calon ratu.
  • Lebah ratu menghasilkan telur, hanya berumur ratu 5 tahun dan produktif 2-4 tahun (Tim Pelatihan Budidaya Lebah Madu, 2008)

 

Teknik Pemeliharaan Lebah Madu Indonesia

Pekarangan merupakan salah satu tempat sumber pangan dan gizi pada pemeliharaan lebah madu. Pekarangan dipandang mempunyai potensi cukup besar sebagai wadah pemeliharaan lebah madu, karena adanya tanaman yang mempunyai masa berbunga berbeda-beda. Disamping tersedianya bunga sepanjang tahun perlu dipilih tanaman yang mempunyai bunga dengan kandungan gula nektar tinggi.  Keadaan ini sangat erat hubungannya dengan jumlah, warna dan aroma lebah madu yang dihasilkan lebah madu. Keadaan ini yang dapat merangsang kehadiran lebah madu.

Baca Juga : Membuat Stup Lebah Madu Lokal

Tahap permulaan dalam memulai memelihara lebah madu adalah keadaan sumber pakannya. Berbagai sumber tanaman pekarangan diketahui sebagai sumber pakan lebah, yang meliputi tanaman buah-buahan, sayur-sayuran, bunga-bungaan, dan tanaman industri. Selain memanfaatkan sumber pakan yang ada di pekarangan, lebah madu juga mampu mengambil nektar dan serbuk sari dari tumbuhan di luar pekarangan. Jarak jangkau antara koloni lebah madu dengan sumber pakan yang efisien adalah kurang dari 750 meter.

Pemeliharaan lebah madu secara lokal berdasarkan hasil praktikum adalah dengan menggunakan stup yang di tempatkan pada pekarangan rumah dan sawah yang tersedia pakan untuk lebah. Pemeliharaan lebah madu lokal akan berhasil jika lingkungan setempat sangat mendukung, yaitu tersedia banyak tanaman berbunga atau penghasil nektar dan pollen serta cukup cadangan makanan lainnya. Penanganan yang serius, tekun, sabar menjaga kebersihan juga merupakan salah satu faktor pendukung keberhasilan upaya tersebut disamping tersedianya bibit atau lebah madu yang cukup tersedia di sekitar lingkungan.

Jenis tanaman yang tersedia di lokasi pemeliharaan lebah madu dan manfaatnya sebagai berikut :

  1. Kelapa Penghasil pollen dan nektar Biasanya pada bulan Agustus-September
  2. Pepaya Penghasil pollen Agustus-September
  3. Padi Penghasil pollen Tergantung masa tanam
  4. Kelapa Penghasil pollen dan nektar Antara Juni-Agustus
  5. Kelapa sawit Penghasil pollen Antara Januari-Desember
  6. Rumput Penghasil pollen Antara Januari-Desember
  7. Pisang Penghasil pollen dan nektar Antara Agustus-November
  8. Mahoni Penghasil nektar Antara Februari-Maret
  9. Mangga Penghasil nektar Antara Kemarau
  10. Rambutan Pengahsil nektar Tergantung masa tanam
  11. Jambu air Penghasil nektar 3-4 kali dalam Setahun
  12. Ubi jalar Penghasil nektar Tergantung masa tanam
  13. Kedelai Penghasil pollen dan nektar Antara Februari-Agustus
  14. Jagung Penghasil pollen Tergantung masa tanam

Serbuk sari atau pollen berkaitan dengan analisis dan teknik yang dilakukan bersamaan dengan produk sarang lain seperti Royal Jelly. Serbuk sari berkaitannya dengan nilai gizi pada pemeliharaan lebah. Serbuk sari atau pollen digunakan untuk memberi makan lebah madu. Seperti dengan produk sarang lainnya pollen memiliki komposisi kimia dari zat yang diciptakan oleh sebagian besar bunga. Sedangkan Nektar adalah cairan manis yang terdapat pada bunga yang biasa diserap lebah, merupakan bahan utama untuk madu.

Sumber pakan dinilai para peternak sebagai permasalahan yang paling utama bagi perkembangan budidaya lebah sebab sumber makanan menyangkut kelangsungan hidup lebah madu dalam perkembangbiakannya. Hal lain yang mempengaruhi keberlangsungan hidup lebah madu yaitu hama contohnya Varroa destructor pada Apis mellifera dan kualitas ratu berpengaruh terhadap perkembangan populasi koloni, akan tetapi kecukupan sumber pakan yang paling menentukan hasil akhirnya.

Untuk memperoleh hasil lebah madu yang optimal diperlukan pengetahuan mengenai tata letak dan jumlah koloni lebah yang dapat dikembangkan di perkarangan. Dasar penempatan sejumlah koloni lebah madu tergantung banyak faktor daintarnya jumlah produksi serbuk sari bunga dan nektar dari jenis tanaman yang ada. Tidak semua tanaman yang ada disekitar pekarangan tempat pemeliharaan madu mempunyai nektar bunga dan pollen sekaligus tergantung kepada jenis tanaman demikian tinggi rendahnya kandungan gula nectar bunga tanaman. Selain jenis tanaman, umur tanaman dan kesuburan tanaman, tinggi rendahnya kandungan gula nectar bunga juga menetukan tinggi rendahnya produksi dari hasil-hasil lebah madu.

Keberhasilan pemeliharaan lebah madu sangat erat kaitannya dengan habitat yaitu tempat, musim yang cocok dan ketersediaan tanaman berbunga sebagai sumber nektar. Habitat yang cocok untuk pemeliharaan lebah madu dicirikan dengan suhu ideal tempat yang cocok bagi lebah adalah sekitar 260C, pada suhu ini lebah dapat beraktifitas normal. Suhu di atas100C lebah masih bias beraktifitas. Lokasi yang disukai lebah adalah tempat terbuka, jauh dari keramaian dan banyak terdapat bunga sebagai pakannya.

Berhasil tidaknya budidaya lebah madu tergantung : 

  1. Ada sumber makanan ( nektar, tepung sari  atau pollen ).
  2. Bibit lebah madu yang baik yaitu anggota koloni banyak dalam satu stup atau sarang minimal 6 sisiran dan pejantan jumlahnya sedikit ( < 100 ekor ).
  3. Pembudidaya atau peternak (orang yang bersangkutan).
  4. Pemberian tambahan makanan pada saat perubahan cuaca (Tim Pelatihan Budidaya Lebah madu, 2008).

Terdapat tanaman yang berbunga sebagai sumber pakan lebah madu. Sumber pakan lebah madu adalah nektar, serbuk sari pada bunga dan air.

Faktor pendukung yang ada pemeliharaan lebah madu seperti banyaknya berbagai jenis tanaman yang tumbuh, serta terlindungi dari predator dan jarak antara koloni satu dengan koloni yang lain tidak berdekatan. Jenis tanaman yang tumbuh seperti tanaman papaya, pisang, kelapa, jambu air, kelapa sawit, padi, rumput, mahoni, mangga, rambutan, ubi jalar, kedelai dan jagung. Masa waktu berbunga dari tiap-tiap jenis tumbuhan berbeda-beda.

Selain tanaman pendukung yang diperlukan dalam pemeliharaan lebah madu, ada juga beberapa faktor yang diperlukan dalam pemeliharaan lebah madu diantaranya adalah :

1. Sanitasi, Tindakan Preventif dan Perawatan 

Pengelolaan lebah secara modern lebah ditempatkan pada kandang berupa kotak yang biasa disebut stup. Di dalam stup terdapat ruang untuk beberapa frame atau sisiran. Dengan sistem ini peternak dapat harus rajin memeriksa, menjaga dan membersihkan bagian-bagian stup seperti membersihkan dasar stup dari kotoran yang ada, mencegah semut atau serangga masuk dengan memberi tatakan air di kaki stup dan mencegah masuknya binatang pengganggu.

2. Pengontrolan Penyakit 

Pengontrolan ini meliputi menyingkirkan lebah dan sisiran sarang abnormal serta menjaga kebersihan stup.

3. Pemberian Pakan

Cara pemberian pakan lebah adalah dengan menggembala lebah ke tempat di mana banyak bunga. Jadi disesuaikan dengan musim bunga yang ada.

Baca Juga : Panen Produk Lebah Madu

Dapus :

Baharudin,  M.  2008.  Usaha  Budidaya  Lebah  Madu  (Apis melifera).  Pustaka, Bogor.

Ditjen  Rehabilitasi  Lahan  dan  Perhutanan  Sosial. 2006.  Keynote  Speech  Direktur Jenderal RLPS, Yogyakarta.

Free.  1970.  Insect  Pollination  on  Crops.  Academic   Press  London   and  New York,  London and New York.

Gregor, S.E. 1976. Insect Pollination of  Cultivated Crops  Plant.  Agricultural  Research  Service. US dept. Of Agriculture.

Hadisoesilo,  S.  1992.  Evolutionary   and   development  of   beekeeping  in  Indonesia.  Universitas Pertanian Malaysia, Southbound.

Jacobus.  2009.  Lebah  Madu  Hasil  Ikutan  dan  Ternak   Harapan.  Mustang,   Jakarta. Jones,  Sarah L.,  H.  Richard  Jones  and  Andreas  Thrasyvoulou.  2011.  Disseminating  research about bee products. Journal  of  Apiproduct  and  Apimedical  Science  3  (3): 105 – 116.

Priyono dan Ramelan,  A.  1978. Struktur Pekarangan di daerah aliran sungai Citarum.  Makalah seminar Ekologi Pekarangan II. Lembaga ekologi, Unpad.

Salmah, S. 1992.  Lebah,  Pengembangan, dan Pelestariannya. Fakultas Matematika dan  Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas.

Sarwono. 2001. Lebah Madu. Agro Media Pustaka, Tangerang.

Siswowijoto,  A. 1991. Bahan  Kuliah  Labah  Madu  (Apis cerana)  PAU.  Hayati.  ITB, Bandung.

Sihombing,  D. T. H. 1997.  Ilmu  Ternak  Lebah  Madu.  Gajah  Mada University Press,  Yogjakarta.

Sumoprastowo,  R. M. dan  R. A.  Suprapto. 1993.  Beternak Lebah Madu Modern.  PT.  Bhatara Niaga Media, Jakarta.

Tim  Pelatihan  Budidaya   Lebah  Madu.  2008.  Budidaya  Lebah  Madu  (Apis indica).  Politeknik Purbaya, Tegal.

Widiarti,  Asmanah dan Kuntadi. 2012.  Budidaya  Lebah Madu  Apis  mellifera  L. Oleh  Masyarakat Pedesaan Kabupaten Pati Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Hutan dan  Konservasi Alam 9 (4) :  351-361.

Zahrina. 2008. Keistimewaan Pemanfaatan dan Pelestarian Lebah Madu. SMA 1 Tambun Selatan, Jakarta..

Teknik Membuat Mentega Dari Susu

Teknik Pembuatan Mentega Susu – Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua orang meminum air susu yang belum diolah. Hal ini disebabkan karena tidak terbiasa mancium aroma susu segar (mentah), atau sama sekali tidak suka air susu dan sebagian lagi karena menganggap harga air susu mahal dibandingkan kebutuhan sehari-hari lainnya. Dengan adanya teknologi pengolahan/pengawetan bahan makanan, maka hal tersebut diatas dapat diatasi, sehingga air susu beraroma enak dan disukai orang.

Proses pengolahan susu bertujuan untuk memperoleh susu yang beraneka ragam, berkualitas tinggi, berkadar gizi tinggi, tahan simpan, mempermudah pemasaran dan transportasi, sekaligus meningkatkan nilai tukar dan daya guna bahan mentahnya. Selain itu pengolahan di sini juga bertujuan untuk menghindari agar air susu sapi tidak mubadzir atau terbuang percuma. Sebagaimana kita ketahui bahwa air susu sapi murni hanya mampu bertahan dalam waktu kurang dari 24 jam. Lewat dari batas waktu tersebut kalau tidak bisa memanfaatkannya, maka air susu akan terbuang percuma dan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit nilainya.

Susu segar dapat diolah menjadi berbagai bentuk produk yang cukup digemari serta memiliki daya simpan produk yang relatif lama. Banyak sekali produksi olahan susu segar yang dibuat agar susu lebih enak dan sesuai selera masyarakat indonesia. Salah satu olahan produk tersebut adalah mentega. Mentega adalah produk ilahan susu yang diperoleh melalui proses pengocokan (chuning) sejumlah krim yaitu bagian susu yang kaya akan lemak yang timbul kebagian atas dari susu pada waktu didiamkan ataupun dipisahkan dengan separator.

Dalam mengkonsumsi 25 gram mentega terkandung kalori sebesar 180 kilo kalori, lemak total sebanyak 20 gram dan natrium 230 mg. Mentega mengandung 6 vitamin diantaranya A, B1, B2, D, E DAN Niasin juga terdapat zat besi, fosfor, natrium, kalium serta omega-3 dan omega-6 yang semuanya sangat dibutuhkan oleh manusia.

Teknologi pembuatan mentega dilakukan dengan peralatan yang masih sederhana, karena memang sesuai visi perusahaan bahwa perusahaan inginmeminimalkan pemakaian mesin-mesin guan memberdayakan masyarakat sekitar untuk dijadikan tenaga kerja guna mengurangi angka pengangguran.

Pembuatan mentega dapat dilakukan dengan cara :

  • Krim dan skim susu dipisahkan menggunakan cream separator atau dengan cara susu segar dimasukan kedalam wadah bermulut lebar disimpan dilemari pendingain suhu 5-10 oC selama 12 jam. Lapisan krim berwarna kuning dipermukaan diambil dengan sendok atau diseot dengan selang plastik kedasar wadah untuk mengambil skim.
  • Krim dipasteurisasi pada suhu 85 oC selama 15 detik untuk membunuh mikroba merugikan dan inaktivasi enzim lipase.
  • Didinginkan samapi mencapai suhu 7 oC
  • Pengocokan (churning) pada suhu 10 oC selama 12 jam atau 4oC selama 3 jam sebanyak ½ volume alat churning, sambil mengambil serum yang terbentuk diganti dengan air sebanyak volume serum yang dibuang, lakukan berulang (empat kali).
  • Penambahan garam sebanyak 1-2 %.
  • Mentega diremas (butter kneading) untuk membentuk mentega yang kompak Mentega kaya vitamin yang mudah diserap, yaitu vitamin A yang sangat dibutuhkan tubuh dalam fungsi fisiologis dan pemeliharaan sistem endokrin.natrium berguna untuk menjaga keseimbangan asam dan basa didalam tubuh serta terlibat dalam permeabilitas sel. Kalium berguna untuk pengaturan keseimbangan cairan sel, kontraksi sel otot, dan terlibat dalam permeabilitas sel. Fungsi besi adalah untuk pembentukan sel darah merah, transpor oksigen, serta mencegah anemia. Fosfor berperan untuk pemebentukan tulang dan gigi, terlibat dalam absorpsi glukosa dan gliserol, serta dalam transpor asam lemak.